Gegar Budaya Kewirausahaan - Pendatang di Indonesia
Post ini aslinya ditulis kemarin dalam bahasa Inggris – Singaporean Mind Meld. Mungkin karena diskusi yang terjadi dalam bahasa Inggris, gue juga lebih gampang menuliskannya dalam bahasa Inggris, jadi lebih natural dan gue nggak perlu menerjemahkannya dalam kepala gue.
Setelah link-nya di-tweet, ada beberapa request supaya post itu dibuat bahasa Indonesianya juga supaya lebih mudah dimengerti. Semoga dengan begini akan lebih berguna untuk lebih banyak orang yang bisa merasa kesentil dan bergerak.
Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu gue dapat kesempatan untuk ketemu dan ngobrol panjang dengan orang Singapur yang lagi ambil PhD di Bandung. Aneh banget, memang. Dan itu pertanyaan pertama gue waktu ketemu dia, “Ngapain loe ambil PhD nya di sini, nggak kebalik?” Tapi akhirnya bisa ngobrol seru karena kayaknya dia juga ngerasa ada kemiripan. Dia orang sana yang belajar dan tinggal di sini, sementara gue sempat belajar di sana 2 tahun untuk setingkat SMP-SMA (sebenernya ‘O’ Levels - level sekolah sana agak aneh ngikutin system Inggris, jadi susah jelasinnya)
Anyway, kebiasaan gue setiap dating ke tempat baru selalu ingin tahu jalan pikiran masyarakat setempat, apa concern mereka, pendapat mereka tentang dunia luar selain daerah mereka, dll. Sumber termudah untuk ini adalah dari berita lokal di TV atau koran lokal. Apakah itu daerah di dalam atau luar negeri, gue selalu melakukan hal yang sama. Apalagi kalau ada kesempatan ngobrol dengan orang lokal. Jadi lebih seru lagi.
Untuk Singapur, tinggal dan sekolah di sana 2 tahun membuat gue ngerasa seperti orang lokal. Apalagi gue sekolah di sekolah ‘normal’ dan bukan sekolah internasional yang isinya anak-anak ekspat bule. Jadi gue -ngerasa- ngerti banget cara berpikir mereka.
Terkadang gue kesel sama beberapa ekspat yang gue temui di Jakarta. Banyak – gak semua tentu – yang kesannya mengisolasi diri dari budaya lokal. Terlalu sibuk bergaul sesame ekspat dan nggak peduli sama apa yang terjadi ti sekitarnya. Kerasa banget kemarin waktu gue nonton bareng rugby di Murphy’s Bar Kemang. Obrolan yang terjadi di antara gue dan mereka adalah tentang negara asalnya, bukan tentang Jakarta atau Indonesia. Kerasa banget banyak dari mereka yang nggak updated apa yang terjadi. Yang mereka tahu cuma terbatas apa yang ada di Jakarta Post. Itupun kalau baca. Yes kesannya gue generalisasi banget, tapi memang sering ketemu orang kayak gini dan bikin gue kesel.
Karena itu setiap ketemu orang asing yang tahu banyak tentang Indonesia, gue selalu impressed. To be fair, banyak juga kok yang gue ketemu yang kayak gini. Tapi masih kurang rasanya.
Nah, bayangkan serunya obrolan gue waktu ketemu sama si orang Singapur yang belajar di Bandung ini. Sebutlah namanya Charlie (bukan ST12). Gue cukup kaget bahwa dia tau banyak banget tentang Indonesia dari setahun pertamanya tinggal di Bandung. Dan karena dia tahu gue pernah di negaranya, dia juga lebih open ngobrolnya. Gue juga jadi bisa lebih mengerti kenapa dia berpendapat seperti itu, karena tahu backgroundnya. Dan walaupun cukup silet, nggak tersinggung, toh kerasa juga bahwa dia bener-bener care dan bersemangat dengan apa yang dia bilang.
Dan memang lucu ngelihat keadaan dan ‘hype’ tentang entrepreneurship & startup di sini dari sudut pandang orang Singapur.. Beberapa hal yang kita bahas:
- Kekecewaan Charlie bahwa ternyata ITB bukan seperti yang dibayangkan. Bayangan dia ITB itu seperti MIT katanya, dan dia kecewa karena ternyata lumayan jauh berbeda. Maaf ya para mahasiswa & alumni ITB… Asumsi dia waktu pertama datang, mindset mahasiswa ITB ingin menciptakan breakthrough teknologi baru dan mengubah dunia J Gue lumayan kaget dengan statementnya ini, karena setahu gue jumlah uang yang dialokasikan untuk riset ke Universitas lumayan besar. Memang benar sih, jumlah pendaftaran paten di Indonesia termasuk sangat rendah disbanding bahkan Negara-negara besar Asia lainnya. (Gak nemu referensinya, tapi pernah baca artikel tentang ini). Dan setelah ngobrol lebih banyak, makin gue sadar maksudnya. Bayangin aja, dalam 50 tahun terakhir, berapa banyak ‘penemuan’ yang kita tahu dari Universitas lokal dan akhirnya diproduksi dan dipakai secara komersil? Yang bener-bener jadi bisnis beneran dan sustainable?
Yang seangkatan gue mungkin inget banget waktu pembangunan jalan tol dalam kota Jakarta tahun 80an, betapa metoda ‘Arjuna Sosrobahu’ didengung-dengungkan sebagai penemuan hebat oleh teknokrat Indonesia dipakai untuk membangun tiang jalan tol? Kenyataannya gue inget banget hanya beberapa tiang yang benar-benar dibangun pakai metoda Arjuna, dan akhirnya sisa tiang yang lain tetap dibangun seperti biasa. Wonder why?
Partner gue beberapa waktu lalu datang ke Puspitek Serpong untuk sebuah acara. Dan di situ semakin terlihat betapa banyaknya penemuan baru hasil riset. Tetapi pertanyaan gue tetap sama, berapa banyak yang akhirnya benar-benar diproduksi dan dipakai secara komersil? Kita nggak perlu sesuatu yang spektakular seperti Google (yang belum tahu, Google awalnya adalah proyek riset PhD Larry Page & Sergei Brin). Betapa sayangnya kalau ada mesin pencabut duri ikan bandeng, tetapi belum dipakai masal? Padahal harga ikan setelah dicabut duri bisa 2 kali lipat harga ikan mentah? Beberapa dari penemuan yang pernah dikurasi Puspitek ada di link ini
Kesimpulan gue, penemuan yang ada akhirnya berhenti sebatas penemuan dan ada ‘missing link’ bahwa hanya sedikit dari mereka yang benar-benar bisa dipakai. Memang nggak cuma di Indonesia ada problem seperti ini. Komersialisasi hasil riset memang nggak gampang. Tapi at least persentase hasil riset yang benar-benar dipakai harus bisa diangkat..
- Dan menyambung ke bahasan gue dengan Charlie selanjutnya: mindset kita harus lebih ‘entrepreneurial’. Kita selalu berpikir mental entrepreneur adalah ranah pebisnis, tetapi gue lebih senang dengan definisi pak Ciputra bahwa entrepreneurs adaah mereka yang “memiliki skill dan kemauan untuk mengubah sampah mejadi emas”. Mindset ini harusnya ada di setiap orang, bukan hanya pebisnis, tapi juga mereka yang ada di pemerintahan, akademik dan bahkan pekerja sosial. Semua orang seharusnya selalu berpikir bagaimana membuat sesuatu hal menjadi lebih baik lagi. Lebih banyak lagi tentang pemikiran pak Ci tentang entrepreneurship ada di sini
Seperti yang pernah dikatakan Jean-Baptiste Say: “entrepreneur mampu memindahkan sumber daya ekonomi untuk meningkatkan produktivitas dan hasil”. Well, we gotta believe this guy! Say adalah ekonom Perancis yang pertama kali mendefinisikan dan memakai kata ‘entrepreneurship’. Sejarah lebih banyak lagi bisa dibaca di entry Wikipedia ini
Kembali ke pendapat Charlie tadi, benar bahwa kebanyakan mahasiswa hanya mengejar gelar sarjana supaya dapat pekerjaan yang ‘lumayan’. Gue nggak akan sok tahu, 15 tahun lalu waktu kuliah, gue juga berpikiran persis sama. Tujuan utama waktu itu adalah dapat gelar sarjana, kerja di perusahaan yang bagus – kalau bisa multinasional supaya ada kesempatan perjalanan ke luar negeri – dan, target gaji 4 kali UMR waktu itu. Simple dan meaningless kan?
Gue bilang ke Charlie kalau sekarang ini keadaannya udah jauh berbeda dengan generasi kita 15-20 tahun lalu. Entah berapa sering sekarang gue ketemu orang-orang gila dengan spirit entrepreneurship luar biasa, walaupun status mereka masih mahasiswa! Beberapa dari mereka bahkan sudah punya bisnis yang berjalan dan menghasilkan keuntungan sebelum mereka lulus kuliah. Impressive!
Tetapi gue juga setuju bahwa pendapat dia masih valid. Kita butuh lebih banyak lagi orang berpendidikan (formal atau non-formal) yang benar-benar berusaha mencari solusi untuk masalah social kita. Dan bekerja super keras supaya solusi itu benar-benar terjadi
Bagian dari memiliki mindset entrepreneurial adalah tetap punya pikiran terbuka dan nggak berhenti belajar. Nggak pernah ada batas. Gue juga ngerasa kadang-kadang terlalu malas untuk tahu tentang sesuatu kalau ada orang lain yang sudah bisa mengurus hal itu. Sering banget gue ketemu orang (yang mengaku) pengusaha, tetapi nggak tahu keadaan keuangan bisnisnya sendiri. Kalau ditanya, mereka akan jawab, “Wah saya kurang tahu, kita Tanya ke orang keuangan saya ya.” Kalau ada yang ngomong kayak gini, biasanya gue langsung hilang interest, loe ngaku pengusaha tetapi nggak tahu berapa keuntungan bisnisnya? Kalau usaha itu mau bangkrut, nggak akan tahu sampai tiba-tiba beneran bangkrut? Mengerikan
Kata-kata Charlie yang bikin gue ngakak waktu itu, “I don’t understand why Matahari employs so many SPG when they do nothing. They don’t sell… All they do is sit and admire themselves in the mirror, and only move when a customer asks their help to look for their clothing size.” Hahahaha….
Dan ini terjadi di banyak bisnis. Banyak sekali pekerja/karyawan yang sangat underutilized, padahal seharusnya skill mereka bisa diupgrade sehingga bisa menghandle lebih banyak lagi pekerjaan. Dan sebenarnya nggak menutup kemungkinan bahwa gaji mereka bisa dinaikkan bahkan sampai dua kali lipat kalau memang mengerjakan dua pekerjaan! Tetapi tentu karena begitu banyak tenaga kerja yang masih menganggur, bisa mempekerjakan lebih banyak orang kesannya lebih baik. Gue sebenarnya punya ppendapat yang sangat berlawanan dengan itu. Tapi ya nanti jadi blogpost lain aja ya…
- Hal berikut yang dicomplain Charlie adalah mental meniru. Dia complain, “berapa banyak kios fotokopi di Taman Sari (dekat ITB)?” Ya ini bener banget bahwa banyak orang sekedar meniru ide yang sudah jalan tanpa melakukan improvement apa-apa. Bahkan istilah ‘ATM’ di pengusaha sudah begitu terkenal: Amati, Tiru, Modifikasi. Masalahnya, kebanyakan hanya berhenti di ‘Tiru’, dan sebenarnya nggak ada yang diuntungkan dengan ini. Apalagi dengan etika bisnis yang rendah, orang tanpa malu mengcopy produk atau jasa yang persis sama dengan yang lain. Gue becandain dia, “Kita juga belajar tiru-meniru dari orang Singapur kok!” Hehehe… Mungkin dulu benar, tetapi setahu gue di sana etika bisnis udah membaik disbanding dulu. Tentu nggak ada yang bisa ngalahin RRC soal tiru-meniru ya…
Setelah diskusi panjang, gue dan Charlie setuju untuk kerjasama untuk membantu entrepreneur Indonesia. Dengan segala kritiknya, dia tulus ingin ikut memperbaiki problem di sini. Tentunya juga karena secara bisnis, Indonesia tetap menjadi negara yang potensial dari sisi bisnis.
Kata-kata terakhirnya teringat banget di gue, “You’ve got a lot of problems here, and where there’s a problem, there’s a solution somewhere. And remember every solution is an opportunity”. Kalau orang luar aja berpikiran seperti ini, masak kita masih pesimis dengan masa depan negeri ini?
Sampai sesi ngobrol berikut dengan Charlie…


