Social Entrepreneur, Another Abuse Of The Term ‘Entrepreneur’?

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore, all progress depends on the unreasonable man.” 
~ George Bernard Shaw

Nah, nyambung post gue sebelum ini, di tengah hype dan abuse kata2 berakhiran ‘-preneur’, muncul pula kata-kata ‘social entrepreneur’, ‘social enterprise’, ‘social business’ dan yang mirip-mirip
Binatang apa lagi ini? Terus terang gue mulai banyak membaca tentang istilah ini kira-kira 2 tahun lalu waktu baca sedikit cuplikan buku ‘The Power Of Unreasonable People’. Website saah satu co-writernya bisa dilihat di link ini

Gue jadi semakin semangat, karena melihat contoh bahwa ternyata entrepreneurship memang bisa menjadi solusi untuk banyak masalah sosial negara kita yang segitu banyaknya. Pendidikan, kesehatan, kebersihan, lingkungan, kemiskinan dan begitu banyak lagi masalah yang sering kita lihat (atau sekedar baca di koran?)

Sejak itu, gue beli bukunya kira-kira setahun lalu, dan malah semakin sering ketemu orang-orang yang punya interest yang sama ke social enterprise, dan bahkan punya kesempatan bertemu dengan begitu banyak orang gila (unreasonable maksudnya) yang ternyata sudah begitu banyak melakukan perubahan tanpa menyebut diri mereka ‘social entrepreneur’, bahkan mungkin nggak aware apa istilah itu

Beberapa minggu lalu, mas Roni Yuzirman, entrepreneur yang juga founder Komunitas Tangan Di Atas, nge-tweet tentang social enterprise ini. Dengan follower beliau yang banyak, tentu banyak yang nyamber, nyahut dan bertanya. Gue baru sadar juga, ternyata banyak yang belum tahu tentang istilah ini. Sebenarnya masalah istilah gak penting buat gue. Gue bukan orang yang terlalu picky dengan semantik, tapi yang penting adalah gue ingin semakin banyak lagi orang yang terinspirasi juga seperti gue waktu membaca dan bertemu dengan The Unreasonable People ini

So here I am writing a record of 2 blogposts in 2 weeks! W00t! After this I can have the excuse to leave the blog for a whole year then..

Mungkin banyak yang masih bertanya-tanya, apa sih maksudnya social enterprise ini? Terus terang gue juga belum menemukan istilah bahasa Indonesia yang pas. Usaha sosial? Bisnis sosial? Kedengarannya absurd banget. Mindset kita terbiasa dengan: bisnis ya bisnis cari untung, sosial ya sosial buang duit. Kesannya nggak bisa dua hal itu disatuin. Paling mentoknya, makin banyak bisnis saat ini yang punya program CSR (Corporate Social Responsibility). Tapi banyak dari program CSR ini yang sekedar ‘cuci tangan’ tanpa impact yang jelas, padahal kaki mereka masih berkubang lumpur *wink* ;-P

Mungkin definisi yang paling enak dari social enterprise adalah: “bisnis yg dijalankan untuk menyelesaikan masalah sosial atau lingkungan”

Definisi di atas gue ambil dari websitenya Social Enterprise London: “social enterprises are businesses which exist to address social or environmental need”

Banyak lagi definisi yang bisa loe temuin kalau loe rajin googling: 
- dari Wikipedia

Intinya, yang membedakan social enterprise dari sekedar CSR bisa diihat dari definisi yang gue quote di atas, inti dari bisnis itu adalah untuk menyelesaikan masalah (sosial atau lingkungan). Tetapi sebagai sebuah bisnis, tentu mereka tetap mencari pendapatan sendiri, tidak sekedar dari donasi aja. Tentunya secara implisit di sini jelas bahwa karena inti bisnis itu untuk menyelesaikan masalah, seharusnya mereka tidak membuat masalah baru. Jadi ya nggak bisa menyelesaikan masalah kelaparan di satu tempat dengan merampok hasil bumi dari tempat lain.

Ini juga seharusnya menjawab sekali pertanyaan menusuk dari artikel Daiysocial ini 

Gue selalu percaya bahwa bisnis yang 'keren' adalah sebuah bisnis yang memberi sebuah solusi dari masalah, bukan sekedar 'berjualan' sebuah barang. Sulit mencari konten di internet? Google menjadi solusinya. Bingung mau jual barang bekas? Dengan mudah jual di ebay. Kesulitan cari buku yang jarang ada di toko? Bisa cari di Amazon. If you notice, contoh-contoh tadi memang masalah yang sering ditemui orang di negara maju. Kalau di twitter pakai hashtag #firstworldproblems. Maka solusi yang muncul juga solusi untuk negara maju. Kebanyakan berbasis internet, thanks to Silicon Valley.

Gimana dengan masalah negara berkembang seperti kita? Yang kalau dimainin di twitter jadi #thirdworldproblems? 
Kebanyakan masalah di negara seperti kita masih berkutat pada masalah sosial yang sangat dasar: sanitasi, kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan untuk yang masih menganggur, peningkatan pendapatan untuk masyarakat desa, akses informasi, kesetaraan gender, dll dll dll.

Belum lagi masalah lingkungan yang sebenarnya berakar dari masalah-masalah di atas. Pembalakan liar, pencemaran, perlindungan flora & fauna, kebanyakan berakar dari satu masalah: kesulitan ekonomi dan belenggu kemiskinan. 

Kalau kita bisa memecahkan masalah-masalah yang kelihatannya pelik ini melalui sebuah solusi kewirausahaan, kenapa tidak? Dan gue pribadi berpendapat bahwa tidak haram untuk usaha-usaha yang memecahkan masalah sosial ini mendapat keuntungan dari sana. Yang terpenting adalah usaha itu tidak lari dari inti eksistensinya: untuk memecahkan sebuah masalah sosial (dan tidak menciptakan masalah baru, tentu)

Memang banyak yang mengambil jalan nirlaba untuk melakukan pemecahan masalah sosial seperti ini. Tetapi gue selalu ingin menularkan mindset: nirlaba (non-profit) bukan berarti tanpa income! Kegiatan sosial butuh dana yang tidak kecil. Kalau ada pengeluaran tentu harus ada pemasukan. Kalau satu-satunya sumber pemasukan adalah donasi atau sumbangan, betapa sayangnya. Istilah kerennya, gak sustainable (please info, sustainable itu bahasa Indonesia yg enak apa ya? Kata Google Translate 'berkelanjutan', garing pisan kayaknya...)

Anyway, back to my point on why donations are not sustainable: di saat krisis, biasanya donasi adalah hal pertama yang dikurangi. Dari artikel Harvard Business Review blog ini, donasi ke charity2 terbesar di US turun 11% di tahun 2010 saja. Itu untuk charity yang dianggap terbesar, gimana yang kecil?

To answer that problem, what if the solution is a business? What if you can make (some, maybe not tremendous) money while doing good? What if you can only make money if you continue doing good?

Sebenarnya yang dikategorikan social entrepreneur nggak juga selalu for-profit, secara teori ada spektrumnya yang digambarkan seperti ini:
Inline images 1

Cukup definisi-definisi ini, lebih baik gue kasih contoh seperti apa mereka:
- Grameen Bank buatan Prof. Muhammad Yunus. Mungkin dia bukan yang pertama memberikan pinjaman modal usaha kecil ke wanita miskin, tapi Grameen adalah yang terbesar dengan >15 juta klien. Social enterprise yang paling legendaris, sampai Prof. Yunus dianugerahi Nobel. Walaupun banyak kritik tentang microfinance, kalau melihat dengan mata kepala sendiri dan bertemu dengan para penerima pinjaman itu, you just get the sense of hope. That's the very least
- Oxfam. LSM yang juga legendaris asal UK. Misi mereka simpel: "get rid of poverty. Everywhere". Banyak sekali yang mereka lakukan dengan impact yang juga besar
- Seventh Generation. Memproduksi produk-produk yang sangat ramah lingkungan. Saking ramahnya sampai ada cerita anak kecil menelan detergen buatan mereka, ibunya panik, dan ternyata hanya dengan minum banyak air putih langsung ternetralisir
- Better World Books. Menjual buku bekas yang kebanyakan hasil donasi, dan sebagian besar profit mereka digunakan untuk program-program pendidikan di seluruh dunia
- Toms Shoes. My personal favourite, gara-gara habis baca bukunya. Mereka membuat sepatu yang stylish (kata orang fashion, gue mana ngerti), dan mendonasikan sepasang sepatu untuk setiap pasang sepatu yang terjual. One For One. Banyak kritik yang bilang donasi sepatu nggak selalu menyelesaikan masalah kesehatan anak-anak, but you gotta admire what they've done. Millions of shoes sold, millions of shoes given to those who would otherwise would not be able to afford even a cheap pair.

Itu contoh-contoh luar, di awal post ini gue bilang ketemu dengan beberapa dari social entrepreneurs di Indonesia? Ya, betul. Beberapa contoh di Indonesia yang gue inget:
- Grup Bina Swadaya. Didirikan oleh pak Bambang Ismawan. Salah satunya juga bergerak di bidang microfinance. Bagi yang sudah lama kenal pak Bambang, mereka selalu bilang, pak Bambang sudah melakukannya lebih dulu dari Prof. Yunus :) Mungkin semua di sini kenal majalah Trubus? Nah itu salah satu bisnis grup ini.
- PerkumpulanTelapak. Diawali dari gerakan lingkungan hidup, sekarang memiliki banyak unit bisnis, salah satunya menjalankan sustainable forestry: melindungi hutan sambil memperbaiki pendapatan penduduk sekitar. Mengubah kebiasaan mereka membalak kayu liar.
- Wangsa Jelita. Memberdayakan petani bunga mawar untuk memproduksi sabun dan produk kecantikan lainnya, dari hasil panen mawar yang dihargai murah (hanya karena tangkainya pendek!)
- Asgar Muda (websitenya lagi underconstruction?). Colek motornya nih: Goris Mustaqim. Salah satu (dari banyak) inisiatif Asgar Muda adalah memberdayakan petani akar wangi, dari komoditi yang tidak dilirik sama sekali, menjadi salah satu sumber pendapatan yang sangat menjanjikan di Garut
- Taman Eden 100. Agrowisata yang sekaligus konservasi hutan di sekitar Danau Toba. Katanya view dari atas bukitnya seperti Taman Eden!
- Lembaga-lembaga amil zakat yang dikelola dengan profesional, sebenarnya juga bisa masuk ke dalam spektrum social enterprise. Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, terus berinovasi untuk menghasilkan produk-produk baru setiap saat, dengan tujuan memperbaiki kehidupan kaum dhuafa. Mulai dari fasilitas kesehatan, pendidikan, dan lain lain

Banyak lagi yang mungkin gue juga belum aware, tujuan gue menulis ini hanya untuk menularkan inspirasi buat yang sudi baca. Gue bukan motivator dan nggak pengen jadi motivator. Tapi keterlaluan kalau loe lihat contoh-contoh orang-orang gila (unreasonable) di atas dan nggak terinspirasi untuk berjuang, mencari satu aja solusi kecil untuk orang dan lingkungan sekitar kita.

Gue lupa siapa yang pernah ngobrol sama gue dan bilang, "Ya di US masalahnya cuma bingung cari tempat makan enak, makanya bikinnya startup untuk cari resto sushi terenak yang terdekat ke lokasi loe (Yes he was talking about Yelp). Tapi kalau di Indonesia masalah besar kita kemiskinan, pendidikan, kesehatan, sanitasi, lingkungan hidup, masak bikin app gituan doang?" In twitter slang, #jleb #jleb #jleb

So, siap untuk berjuang? Yuk! Let's be unreasonable!

Udah Hampir Setahun Resign Dari Kerjaan Kantoran, Ngapain Aja Sih Loe?


Kemarin gue baru aja ketemu teman lama, dulu kita pernah sekantor, dan bahkan kerja bareng di satu bagian. Dia baru browsing LinkedIn dan baru lihat bahwa gue udah nggak kerja jadi karyawan lagi. Penasaran, dia ngajak ketemu dan intinya nanya, “jadi setahun terakhir ini loe ngapain aja?”


2-3 tahun terakhir ini, ‘entrepreneurship’ atau kewirausahaan benar-benar jadi buzzword yang sexy. Tiba-tiba banyak orang yang ingin jadi business owner/ entrepreneur.

Sisi negatifnya, karena ini buzzword yang ‘seksi’, kata entrepreneurship ini di-abuse habis-habisan dan bahkan dibuat istilah-istilah yang absurd. Semua bisa disambungkan ke akhiran ‘-preneur’. Technopreneur, fashionpreneur, foodpreneur, dan lain-lainnya yang ajaib J


Sisi positifnya, gue benar-benar berharap ekosistem kewirausahaan Indonesia bertambah kuat.


Selama ini, gue ibaratkan entrepreneurship di Indonesia ini seperti ikan Koi yang dicemplungin ke kolam gurame. Mungkin dia bisa bertahan hidup, tapi jangan harap dia bisa tumbuh spektakular besarnya seperti yang ada di Okinawa sana. Ekosistem pendukungnya nggak ideal. Air sih ada, tapi kan Koi butuh pH yang spesifik untuk bisa ‘thriving’. Belum jenis tanahnya, makanannya, temperatur udara dan air, dll dll.


Nah, entrepreneurship Indonesia juga gitu. Bisa hidup, tapi untuk bisa jadi benar-benar besar dan berkembang, ekosistemnya harus diperkuat semua. Dari sistem pendidikan, mindset anak muda, akses pasar, sistem legal (perlindungan hukum, HAKI, dll), mentoring, baru sistem permodalan. Dan masih banyak lagi aspek yang harus dibangun juga. At least akhir-akhir ini banyak pihak yang membangun pilarnya masing-masing untuk menyangga entrepreneurship Indonesia


Itu trigger utama kenapa kami bertiga (2 partners & gue) memutuskan untuk berkontribusi dengan membangun Kinara Indonesia


Selama ini pengalaman gue sebagai tukang kredit benar-benar berkutat di sisi permodalan (perbankan). Sementara seperti gue sebut di atas tadi, ekosistem yang dibutuhkan meliputi banyak sekali aspek. Permodalan hanyalah salah satu bagian kecil dari ekosistem itu. Dan jenis permodalan yang dibutuhkan juga tidak melulu pinjaman.


Saat ini mindset semua entrepreneur pemula terpaku pada pinjaman dari lembaga keuangan (bank atau non-bank). Karena memang hanya itu yang ada dan terlihat. Padahal belum tentu itu yang mereka butuhkan. Analogi yang selalu gue pake adalah, kalau omzet masih naik turun, kadang 10 juta kadang 2 juta, nggak make sense untuk ambil pinjaman dengan cicilan 1 juta sebulan. Bukannya membantu, bisa-bisa malah merusak cashflow. Dan di dunia bisnis, sebesar atau sekecil apapun skala bisnisnya, cashflow is king


Semoga Kinara bisa menjadi salah satu pilar yang memperkuat ekosistem entrepreneurship Indonesia. Kami memang masih kecil, tapi kami tentu bermimpi besar.


Untuk tau lebih banyak lagi ngapain aja gue setahun terakhir ini, klik www.kinaraindonesia.com

Gegar Budaya Kewirausahaan - Pendatang di Indonesia

Post ini aslinya ditulis kemarin dalam bahasa Inggris – Singaporean Mind Meld. Mungkin karena diskusi yang terjadi dalam bahasa Inggris, gue juga lebih gampang menuliskannya dalam bahasa Inggris, jadi lebih natural dan gue nggak perlu menerjemahkannya dalam kepala gue.

Setelah link-nya di-tweet, ada beberapa request supaya post itu dibuat bahasa Indonesianya juga supaya lebih mudah dimengerti. Semoga dengan begini akan lebih berguna untuk lebih banyak orang yang bisa merasa kesentil dan bergerak.

Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu gue dapat kesempatan untuk ketemu dan ngobrol panjang dengan orang Singapur yang lagi ambil PhD di Bandung. Aneh banget, memang. Dan itu pertanyaan pertama gue waktu ketemu dia, “Ngapain loe ambil PhD nya di sini, nggak kebalik?” Tapi akhirnya bisa ngobrol seru karena kayaknya dia juga ngerasa ada kemiripan. Dia orang sana yang belajar dan tinggal di sini, sementara gue sempat belajar di sana 2 tahun untuk setingkat SMP-SMA (sebenernya ‘O’ Levels - level sekolah sana agak aneh ngikutin system Inggris, jadi susah jelasinnya)

Anyway, kebiasaan gue setiap dating ke tempat baru selalu ingin tahu jalan pikiran masyarakat setempat, apa concern mereka, pendapat mereka tentang dunia luar selain daerah mereka, dll. Sumber termudah untuk ini adalah dari berita lokal di TV atau koran lokal. Apakah itu daerah di dalam atau luar negeri, gue selalu melakukan hal yang sama. Apalagi kalau ada kesempatan ngobrol dengan orang lokal. Jadi lebih seru lagi.

Untuk Singapur, tinggal dan sekolah di sana 2 tahun membuat gue ngerasa seperti orang lokal. Apalagi gue sekolah di sekolah ‘normal’ dan bukan sekolah internasional yang isinya anak-anak ekspat bule. Jadi gue -ngerasa- ngerti banget cara berpikir mereka.

Terkadang gue kesel sama beberapa ekspat yang gue temui di Jakarta. Banyak – gak semua tentu – yang kesannya mengisolasi diri dari budaya lokal. Terlalu sibuk bergaul sesame ekspat dan nggak peduli sama apa yang terjadi ti sekitarnya. Kerasa banget kemarin waktu gue nonton bareng rugby di Murphy’s Bar Kemang. Obrolan yang terjadi di antara gue dan mereka adalah tentang negara asalnya, bukan tentang Jakarta atau Indonesia. Kerasa banget banyak dari mereka yang nggak updated apa yang terjadi. Yang mereka tahu cuma terbatas apa yang ada di Jakarta Post. Itupun kalau baca. Yes kesannya gue generalisasi banget, tapi memang sering ketemu orang kayak gini dan bikin gue kesel.

Karena itu setiap ketemu orang asing yang tahu banyak tentang Indonesia, gue selalu impressed. To be fair, banyak juga kok yang gue ketemu yang kayak gini. Tapi masih kurang rasanya.

Nah, bayangkan serunya obrolan gue waktu ketemu sama si orang Singapur yang belajar di Bandung ini. Sebutlah namanya Charlie (bukan ST12). Gue cukup kaget bahwa dia tau banyak banget tentang Indonesia dari setahun pertamanya tinggal di Bandung. Dan karena dia tahu gue pernah di negaranya, dia juga lebih open ngobrolnya. Gue juga jadi bisa lebih mengerti kenapa dia berpendapat seperti itu, karena tahu backgroundnya. Dan walaupun cukup silet, nggak tersinggung, toh kerasa juga bahwa dia bener-bener care dan bersemangat dengan apa yang dia bilang.

Dan memang lucu ngelihat keadaan dan ‘hype’ tentang entrepreneurship & startup di sini dari sudut pandang orang Singapur.. Beberapa hal yang kita bahas:

  • Kekecewaan Charlie bahwa ternyata ITB bukan seperti yang dibayangkan. Bayangan dia ITB itu seperti MIT katanya, dan dia kecewa karena ternyata lumayan jauh berbeda. Maaf ya para mahasiswa & alumni ITB… Asumsi dia waktu pertama datang, mindset mahasiswa ITB ingin menciptakan breakthrough teknologi baru dan mengubah dunia J Gue lumayan kaget dengan statementnya ini, karena setahu gue jumlah uang yang dialokasikan untuk riset ke Universitas lumayan besar. Memang benar sih, jumlah pendaftaran paten di Indonesia termasuk sangat rendah disbanding bahkan Negara-negara besar Asia lainnya. (Gak nemu referensinya, tapi pernah baca artikel tentang ini). Dan setelah ngobrol lebih banyak, makin gue sadar maksudnya. Bayangin aja, dalam 50 tahun terakhir, berapa banyak ‘penemuan’ yang kita tahu dari Universitas lokal dan akhirnya diproduksi dan dipakai secara komersil? Yang bener-bener jadi bisnis beneran dan sustainable?

Yang seangkatan gue mungkin inget banget waktu pembangunan jalan tol dalam kota Jakarta tahun 80an, betapa metoda ‘Arjuna Sosrobahu’ didengung-dengungkan sebagai penemuan hebat oleh teknokrat Indonesia dipakai untuk membangun tiang jalan tol? Kenyataannya gue inget banget hanya beberapa tiang yang benar-benar dibangun pakai metoda Arjuna, dan akhirnya sisa tiang yang lain tetap dibangun seperti biasa. Wonder why?

Partner gue beberapa waktu lalu datang ke Puspitek Serpong untuk sebuah acara. Dan di situ semakin terlihat betapa banyaknya penemuan baru hasil riset. Tetapi pertanyaan gue tetap sama, berapa banyak yang akhirnya benar-benar diproduksi dan dipakai secara komersil? Kita nggak perlu sesuatu yang spektakular seperti Google (yang belum tahu, Google awalnya adalah proyek riset PhD Larry Page & Sergei Brin). Betapa sayangnya kalau ada mesin pencabut duri ikan bandeng, tetapi belum dipakai masal? Padahal harga ikan setelah dicabut duri bisa 2 kali lipat harga ikan mentah? Beberapa dari penemuan yang pernah dikurasi Puspitek ada di link ini

Kesimpulan gue, penemuan yang ada akhirnya berhenti sebatas penemuan dan ada ‘missing link’ bahwa hanya sedikit dari mereka yang benar-benar bisa dipakai. Memang nggak cuma di Indonesia ada problem seperti ini. Komersialisasi hasil riset memang nggak gampang. Tapi at least persentase hasil riset yang benar-benar dipakai harus bisa diangkat..

  • Dan menyambung ke bahasan gue dengan Charlie selanjutnya: mindset kita harus lebih ‘entrepreneurial’. Kita selalu berpikir mental entrepreneur adalah ranah pebisnis, tetapi gue lebih senang dengan definisi pak Ciputra bahwa entrepreneurs adaah mereka yang “memiliki skill dan kemauan untuk mengubah sampah mejadi emas”. Mindset ini harusnya ada di setiap orang, bukan hanya pebisnis, tapi juga mereka yang ada di pemerintahan, akademik dan bahkan pekerja sosial. Semua orang seharusnya selalu berpikir bagaimana membuat sesuatu hal menjadi lebih baik lagi. Lebih banyak lagi tentang pemikiran pak Ci tentang entrepreneurship ada di sini

Seperti yang pernah dikatakan Jean-Baptiste Say: “entrepreneur mampu memindahkan sumber daya ekonomi untuk meningkatkan produktivitas dan hasil”. Well, we gotta believe this guy! Say adalah ekonom Perancis yang pertama kali mendefinisikan dan memakai kata ‘entrepreneurship’. Sejarah lebih banyak lagi bisa dibaca di entry Wikipedia ini

Kembali ke pendapat Charlie tadi, benar bahwa kebanyakan mahasiswa hanya mengejar gelar sarjana supaya dapat pekerjaan yang ‘lumayan’. Gue nggak akan sok tahu, 15 tahun lalu waktu kuliah, gue juga berpikiran persis sama. Tujuan utama waktu itu adalah dapat gelar sarjana, kerja di perusahaan yang bagus – kalau bisa multinasional supaya ada kesempatan perjalanan ke luar negeri – dan, target gaji 4 kali UMR waktu itu. Simple dan meaningless kan?

Gue bilang ke Charlie kalau sekarang ini keadaannya udah jauh berbeda dengan generasi kita 15-20 tahun lalu. Entah berapa sering sekarang gue ketemu orang-orang gila dengan spirit entrepreneurship luar biasa, walaupun status mereka masih mahasiswa! Beberapa dari mereka bahkan sudah punya bisnis yang berjalan dan menghasilkan keuntungan sebelum mereka lulus kuliah. Impressive!

Tetapi gue juga setuju bahwa pendapat dia masih valid. Kita butuh lebih banyak lagi orang berpendidikan (formal atau non-formal) yang benar-benar berusaha mencari solusi untuk masalah social kita. Dan bekerja super keras supaya solusi itu benar-benar terjadi

Bagian dari memiliki mindset entrepreneurial adalah tetap punya pikiran terbuka dan nggak berhenti belajar. Nggak pernah ada batas. Gue juga ngerasa kadang-kadang terlalu malas untuk tahu tentang sesuatu kalau ada orang lain yang sudah bisa mengurus hal itu. Sering banget gue ketemu orang (yang mengaku) pengusaha, tetapi nggak tahu keadaan keuangan bisnisnya sendiri. Kalau ditanya, mereka akan jawab, “Wah saya kurang tahu, kita Tanya ke orang keuangan saya ya.” Kalau ada yang ngomong kayak gini, biasanya gue langsung hilang interest, loe ngaku pengusaha tetapi nggak tahu berapa keuntungan bisnisnya? Kalau usaha itu mau bangkrut, nggak akan tahu sampai tiba-tiba beneran bangkrut? Mengerikan

Kata-kata Charlie yang bikin gue ngakak waktu itu, “I don’t understand why Matahari employs so many SPG when they do nothing. They don’t sell… All they do is sit and admire themselves in the mirror, and only move when a customer asks their help to look for their clothing size.” Hahahaha….

Dan ini terjadi di banyak bisnis. Banyak sekali pekerja/karyawan yang sangat underutilized, padahal seharusnya skill mereka bisa diupgrade sehingga bisa menghandle lebih banyak lagi pekerjaan. Dan sebenarnya nggak menutup kemungkinan bahwa gaji mereka bisa dinaikkan bahkan sampai dua kali lipat kalau memang mengerjakan dua pekerjaan! Tetapi tentu karena begitu banyak tenaga kerja yang masih menganggur, bisa mempekerjakan lebih banyak orang kesannya lebih baik. Gue sebenarnya punya ppendapat yang sangat berlawanan dengan itu. Tapi ya nanti jadi blogpost lain aja ya…

 

  •  Hal berikut yang dicomplain Charlie adalah mental meniru. Dia complain, “berapa banyak kios fotokopi di Taman Sari (dekat ITB)?” Ya ini bener banget bahwa banyak orang sekedar meniru ide yang sudah jalan tanpa melakukan improvement apa-apa. Bahkan istilah ‘ATM’ di pengusaha sudah begitu terkenal: Amati, Tiru, Modifikasi. Masalahnya, kebanyakan hanya berhenti di ‘Tiru’, dan sebenarnya nggak ada yang diuntungkan dengan ini. Apalagi dengan etika bisnis yang rendah, orang tanpa malu mengcopy produk atau jasa yang persis sama dengan yang lain. Gue becandain dia, “Kita juga belajar tiru-meniru dari orang Singapur kok!” Hehehe… Mungkin dulu benar, tetapi setahu gue di sana etika bisnis udah membaik disbanding dulu. Tentu nggak ada yang bisa ngalahin RRC soal tiru-meniru ya…

Setelah diskusi panjang, gue dan Charlie setuju untuk kerjasama untuk membantu entrepreneur Indonesia. Dengan segala kritiknya, dia tulus ingin ikut memperbaiki problem di sini. Tentunya juga karena secara bisnis, Indonesia tetap menjadi negara yang potensial dari sisi bisnis.

Kata-kata terakhirnya teringat banget di gue, “You’ve got a lot of problems here, and where there’s a problem, there’s a solution somewhere. And remember every solution is an opportunity”. Kalau orang luar aja berpikiran seperti ini, masak kita masih pesimis dengan masa depan negeri ini?

Sampai sesi ngobrol berikut dengan Charlie…

 

Singaporean Mind Meld

You Trekkies should be familiar with the Vulcan mind meld. If you are not, shame on you! Disclaimer: I am not a Trekkie and I still know what it is, driven by the secret desire to perform this on some people sometimes, namely SBY, most DPR members, Jero Wacik, Habib Rizieq, etc.

For those non-Trekkies, the wikipedia definition is here.

Basically the Vulcans can do this technique to know what are others thinking. So if I do this to Jero Wacik I can find out what was in his mind when picking Eddy Silitonga as our tourism ambassador

By some strange coincidence I met a Singaporean sometime ago who has been living in Bandung for his PhD studies. Sounded really odd to me as he is the first foreigner I personally met who actually studies here. As a background, I studied in Singapore for 2 years for high school - technically it's 'O' Levels but will be so difficult to explain. Anyway, I am always interested to understand how a society thinks, what's important to the people, how they see the world outside, etc. During short visits this is usually achieved by watching local news on TV or readint the local newspaper. Trust me it's so damn fun to do. Whether local travels or overseas travels you can gather so much insight on the society. In the case of Singapore, living there for 2 years made me felt like I was Singaporean! Especially because I was in a local school and not one of those international schools filled with expat kids.

The disappointing fact about the expatriate community in Jakarta is that they - not all, but most anyway - seem to isolate themselves from the locals. Too busy mingling with other expats and doesn't give a damn about what's happening around them. I knew a foreigner who is not aware of the Lapindo mudflow when it made local headlines almost everyday. Of course he was too busy reading Wall Street Journal and watching CNBC the whole time. I know I shouldn't generalise but keep meeting these ignorant people and got sick of it.

Then I met this Singaporean who studied in Bandung. Let's call him Charlie. To my surprise, he knows a lot of stuff about Indonesia from his first year here. And it seemed that because he knew I spent sometime in Singapore, he could express himself more freely, and yes, I can definitely understand where he is coming from, so I wasn't insulted when he criticised us. Probably because I could sense that he truly cared and was really passionate about what he was talking about.

So you got an Indonesian who studied in Singapore and a Singaporean who is studying in Bandung, both with the same passion to improve and support local entrepreneurship. Perfect ingredients for a mind meld!

And it's so funny seeing Indonesian entrepreneurial/startup scene from a Singaporean point of view... Some of the things we discussed were:
  • His disappointment that ITB was not like MIT. So sorry ITB graduates and students, but he was coming with an assumption that ITB students are the technical minds of the future who would invent the next tech breakthrough and changing the world. I was quite surprised because I know there are a lot of research money are spent in our Universities. But after some more discussion I can see his point. From the past 50 years, how any 'inventions' do you know were research subjects from our local Universities that made it to market as a real, working product. A real business that is sustainable and free from grant as their income?
My partner recently went to Puspitek Serpong to see what it is all about. It turned out that there are A LOT of local inventions as a result of the techies' research, some are highlighted here

But the question remains, how many of them are actually into commercial production? We don't need something as spectacular as Google, but at least someone (or the inventor himself) should be able to think about how our fishermen can commercially use their 'fish de-boning machine' and sell it at twice the price of raw fish!

 

Charlie's exact quote was, "The ITB (undergraduate) students I met just wanna get their degrees done and join Pertamina as Management Trainee." In twitter slang, #jleb
  • That point brought our discussion to the next point: this country needs to be more entrepreneurial. We always think of entrepreneurs as businesspeople, while I tend to agree more to pak Ciputra that entrepreneurs are those "with the skill and will power to turn junk into gold". This mindset should apply to everyone, not just businesspeople, but also people in government, academics and even social workers. More of pak Ci's thoughts on entrepreneurship is here
And as Jean-Baptiste Say puts it: "The entrepreneur shifts economic resources out of lower and into higher productivity and greater yield." Hey, you gotta believe the guy, Say is the French economist who first defined the word 'entrepreneurship'. More history can be read from the wikipedia entry

 

Coming back to Charlie's point, it is so true that most undergraduate students do their studies just to get a degree that will qualify them for an acceptable job. Not gonna deny that I was thinking the same way 15 years ago when I was studying. The main goal back then was get my degree, work in a good company - preferably multinational so there's more chance of overseas travel - and, a target salary that was 4 times the minimum wage at the time. What a dumb guy I was 
32a

 

I told Charlie that what he's seeing now is already much better than my days 15-20 years ago. Nowadays I keep meeting crazy people with entrepreneurial spirit even though they are still in University! Some of which actually have their own business running profitably before they graduate. Impressive!

 

But his point is so valid, we need more educated people who are actually looking for solutions to our everyday problems. And then work damn hard to make the solutions come true

  • Part of having an entrepreneurial mindset is to keep an open mind and keep learning. There is no limit. I admit we are often too lazy to know about things when we have other people who already take care of it. How many people calling themselves 'entrepreneurs' who are not even aware of his company's financials? In my line of work, I keep meeting people who answer, "I don't know, let's ask my accounting person." How dare you call yourself an entrepreneur and not knowing how much your business makes? If your company is on the verge of bankruptcy, you'll only find out when it happens? Scary stuff

The funniest remark from Charlie was, "I don't understand why Matahari employs so many SPG when they do nothing. They don't sell.. What they do is sit and admire themselves in the mirror, and only move when a customer asks their help to look for their clothing size." LOL 

333

And that is so true for a lot of businesses. A lot of workers are so underutilised, where we can actually upgrade their skills and maybe pay them twice their current salary. But of course with the abundance of people, hiring more seems to be the best option. I can assure you this is a superficial thought and is totally against this. But that's another blogpost..

  • The next thing Charlie complained about is the copycat mentality. His point was, "how many kios fotokopi are in Taman Sari (near ITB)?" Yes this is so true that some people just copy whatever idea seems to worked well before without improving it, and it ends up hurting everyone. And he complains about the business ethics of how people shamelessly have the exact same product/service as others. In my defence, I joked, "well we learned it from the Singaporeans!" Which is true, although from my knowledge, business ethics is improving a lot there compared to what it was before. Of course the king of copycat is still mainland China, but we rest our case there.

  • In our parting ways, we agreed to cooperate and do business together to help Indonesian entrepreneurs. With all his criticism, he truly wants to help us improve the way we do things. And of course, business-wise it remains a good country to invest in. His parting words were, "You've got a lot of problems here, and where there's problem, there is a solution somewhere. And remember every solution is an opportunity". Can't have said it better, dude..

Then we finish the mind meld session, until our next meeting, of course

Bersih-Bersih Blog Berdebu

Kebetulan hari ini adalah Hari Blogger Nasional. Tapi bukan itu alasan gue nulis posting setelah sekian lama. Sebenernya udah niat untuk nulis lebih banyak sekarang, apalagi udah lebih banyak waktu luang. Sayangnya memang gue terlalu mudah ter-distract persis anak kecil. Dan distraction paling besar akhir2 ini adalah rilisnya game Football Manager 2012. Tiap kali buka laptop pengennya main 1 match aja... Dan akhirnya habis 1-2 jam waktu luang itu untuk main :-)

Semoga Hari Blogger ini menjadi momentum kebangkitan blog saya demi kemajuan negara dan persatuan bangsa. Ok kan untuk jadi spanduk Hari Blogger ala spanduk pemerintah?

Udah ada beberapa topik yang belum tentu nyambung satu dengan yang lain yang udah gue bikin mindmapnya, memang tinggal ditulis aja kok.. At least gue akan mulai 1 post setelah ini

Random topics yang udah tercatat adalah:
  • udah ngapain aja 6 bulan setelah berhenti kerja
  • impian ngebantu petani Indonesia
  • assumption is the mother of all failures
  • community = business
  • Singaporean view of Indonesia
  • social entrepreneurship
Yuk mulai nulis lagi yuk...

Surat Dukungan Masyarakat Untuk KPK Yang Tidak Disiarkan TV Merah & Biru

Biar gampang liatnya, ini lho surat dukungan tokoh masyarakat anti-korupsi yang dibacakan saat press-con di KPK kemarin (19 Agustus)

Tentunya oleh TV Merah dan Biru beritanya cuma diliput sekilas, teks ini tidak diperlihatkan dan pembacaannya oleh pak Endriartono tidak disiarkan. Well, at least di segmen berita yg gue lihat, cuma diberitakan sekilas numpang lewat. Sementara pembacaan surat Udin ke SBY disiarkan live & diulang2 tiap jam, ditambah dramatisasi tampang Udin sok memelas dan background musik sedih. You get my point..

Teks surat dukungan untuk KPK:

Kepada Presiden Republik Indonesia, Kami memberikan dukungan keberanian untuk melakukan langkah-langkah aktif dan nyata, menggunakan kewenangan tertinggi sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, serta sebagai pemegang mandat rakyat Indonesia, untuk melindungi negara dan warga bangsa: Dari serangan balik para koruptor,
Dari kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada kebutuhan dasar rakyat banyak,
Dari pemiskinan terstruktur karena penguasaan sumberdaya ekonomi oleh segelintir kelompok,
Dari ketidakpastian hukum dan penegakan hukum yang tidak adil,
Dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang diambil atas dasar kepentingan politik jangka pendek. Jakarta, enam puluh enam tahun setelah Indonesia merdeka.
Tertanda, rakyat Indonesia,

Anies Baswedan; Widie Sembada ,Anita Wahid; Bambang Widodo Umar; Betti S. Alisjahbana ; Burhan Muhtadi; Danang Widoyoko; Eep Saefulloh Fattah; Eddy Swandi Hamid; Endriartono Sutarto; Erry R. Hardjapamekas; Faisal Basri; Hamid Chalid; Ikrar Nusa Bakthi; Imam Prasodjo; Komaruddin Hidayat; M. Ichsan Loulembah; Mas Achmad Santosa; Monica Tanuhandaru; Natalia Soebagjo; Ratih Sanggarwati; Rhenald Kasali; Saldi Isra; Teten Masduki; Atika Makarim; Todung Mulya Lubis; Yenni Wahid; Yunarto Wijaya; Zainal Arifin Muchtar; Zumrotin K. Susilo.

Who Wants To Be An Entrepreneur?

"Indonesia only has 0.18% entrepreneur population, compared to Singapore's 7.2%.."
"We need to create more entrepreneurs..."
"University graduates need to aim to setup their own business instead of becoming employees..."
"Indonesian SMEs stay strong despite the 2008 global crisis..."

You've probably seen the above quotes many times if you're like me. Well if you haven't, now you have. 

A lot of people are saying the same things, this country needs more entrepreneurs. 
For many, this seems to be the way out of so many issues facing our beloved country. 
Unemployment, sustainable economic growth, reliance on foreign investment, etc etc etc

I agree wholeheartedly. This wave is good and is becoming stronger and stronger. Let's ride this wave!

But it seems that many put 'becoming entrepreneur' as the goal. This is where my objection is.

Becoming an entrepreneur is just a start.
Yes it is a huge milestone for most people. Especially those like me who has been 'trapped' in their comfort zone as employees for years.
It may be a cause for celebration, but no champagne-popping, confetti-throwing, fireworks-exploding celebration yet, please

The road ahead is rough and tough (so I heard)
It's like having a baby (not that babies make money, although some darned parents do make money out of their babies...)
Be ready to hit brickwalls. You will need to tear down those walls if you wanna continue
You will fall. But you will have to pick yourself up and run again

This post is not really for other people to read
This is for myself
To remind me when the road is rough
To plug my ears when the baby cries so hard
To give me strength when I need to break some walls
To heal my wounds after every fall

It ain't always gonna be easy, but I'll make sure I enjoy the journey

Good luck to me, and to all other entrepreneur-wannabes out there!

Let's live a life of passion! 
(*wink to @ReneCC*)

Shut Up Mario Teguh, Make Way For Marshall Mathers..!!

Move over Mario Teguh! Go away Tony Robbins!

Here comes one of the best motivational poetry by one of the gratest motivational speakers of all time, my personal favourite, Marshall Mathers. 

Yes he's the real Slim Shady and unlike you two, he lets his experience do the talking. 

Although he ain't that bad at speaking, at least better than your flowery crap.. 

His crap actually stinks like real crap and the effect is a real kick in the nut, waking me up from my dream...


Taken from Airplanes (Part II) of B.O.B featuring some chick called Hayley and the honourable Mr. Mathers:


Alright lets pretend Marshall Mathers never picked up a pen

Lets pretend things would have been no different

Pretend, he procrastinated had no motivation

Pretend, he just made excuses that were so paper thin 

They could blow away with the wind

Marshall, you’re never gonna make it, makes no sense to play the game 

There ain’t no way that you’ll win


Pretend, he just stayed outside all day and played with his friends

Pretend, he even had a friend to say was his friend

And it wasn’t time to move and schools were changing again

He wasn’t socially awkward and just strange as a kid

He had a father and his mother wasn’t crazy as shit

And he never dreamed he could rip stadiums and just lazy as shit


Fuck a talent show in a gymnasium bitch 

You won’t amount to shit

Quit daydreaming, kid

You need to get your cranium checked 

You thinking like an alien it just ain’t realistic

Now pretend, they ain’t just make him angry with this shit 

And there was no one he could even aim when he’s pissed it

And his alarm went off to wake him off but he didn’t make it to the rap Olympics 

Slept through his plane and he missed it

He’s gon’ have a hard time explaining to Hailey and Laney these food stamps and this WIC shit

Cuz he never risked shit 

He hopes and he wished it 

But it didn’t fall in his lap

So he ain’t even here

He pretends that…


I trust my readers are adult enough to read thru the profanities and digest the message

If not, well, google him and read thru his short biography


As for me, it's time to pick up my pen...

What is an Angel Investor: Do You Wear a Halo?

Where Venture Angels Ignite™
via venturehype.com < click this link for full article

Nice article from venturehype.com on Angel Investors

Give Me Another Chance, I Wanna Grow Up Once Again

My one big assumption is that most of you who read this through twitter would have seen '3 Idiots', the Bollywood sensation that played in Blitz Megaplex longer than Avatar. If you haven't, too bad, you missed a great movie, but do read on

Remember that scene where Joy Lobo sang a song with his guitar? Not a typical Bollywood song, I guess

Give me some sunshine
Give me some rain
Give me another chance
I wanna grow up once again

Joy ended up committing suicide, bringing up the issue of India having the highest suicide rate among Uni students

No, I'm not that depressed nor on the brink of suicide. Just been feeling that something is missing from myself. The song kinda reminded me what's missing

I wanna grow up once again


Not that I wanna act childish or being irresponsible

I miss being spontaneous

Doing things as the ideas come to my head

No second thoughts

No plans

Go where the wind blows

Ask a child what s/he plans to do this afternoon and s/he'll stare blankly at you

They just do what they feel like

You get the idea..


Seems that things in life have been too 'planned' recently, specifically time and destinations. Project plans and schedules and itineraries

I didn't realise this until my recent business trip.

Imagine covering 4 cities in East Kalimantan and 5 cities in East Java, all in one week. Great fun, saw parts of our great country where few have been before

The eureka moment was travelling from Balikpapan to Surabaya

No more Garuda flight between the two. Since when? I dunno. So a budget airline it was

Actual destination for that afternoon was Jombang. Gotta get there by 6pm, and this time no airport pickup at Juanda. Why? Long story. But the little 'adventure' of finding transportation was enough to spark me

I think I'll do an unplanned travel with my best friend, my wife :-) See if she enjoys the surprises and adventures..

No fixed itinerary
No pre-booked tickets
No hotel reservation
No lunch/dinner reservation
No destination

A road trip to nowhere
I wanna grow up once again

And after that, back to the reality of project plans and schedules of course

Be a responsible grownup

Powered by Telkomsel BlackBerry®