Social Entrepreneur, Another Abuse Of The Term ‘Entrepreneur’?


Kemarin gue baru aja ketemu teman lama, dulu kita pernah sekantor, dan bahkan kerja bareng di satu bagian. Dia baru browsing LinkedIn dan baru lihat bahwa gue udah nggak kerja jadi karyawan lagi. Penasaran, dia ngajak ketemu dan intinya nanya, “jadi setahun terakhir ini loe ngapain aja?”
2-3 tahun terakhir ini, ‘entrepreneurship’ atau kewirausahaan benar-benar jadi buzzword yang sexy. Tiba-tiba banyak orang yang ingin jadi business owner/ entrepreneur.
Sisi negatifnya, karena ini buzzword yang ‘seksi’, kata entrepreneurship ini di-abuse habis-habisan dan bahkan dibuat istilah-istilah yang absurd. Semua bisa disambungkan ke akhiran ‘-preneur’. Technopreneur, fashionpreneur, foodpreneur, dan lain-lainnya yang ajaib J
Sisi positifnya, gue benar-benar berharap ekosistem kewirausahaan Indonesia bertambah kuat.
Selama ini, gue ibaratkan entrepreneurship di Indonesia ini seperti ikan Koi yang dicemplungin ke kolam gurame. Mungkin dia bisa bertahan hidup, tapi jangan harap dia bisa tumbuh spektakular besarnya seperti yang ada di Okinawa sana. Ekosistem pendukungnya nggak ideal. Air sih ada, tapi kan Koi butuh pH yang spesifik untuk bisa ‘thriving’. Belum jenis tanahnya, makanannya, temperatur udara dan air, dll dll.
Nah, entrepreneurship Indonesia juga gitu. Bisa hidup, tapi untuk bisa jadi benar-benar besar dan berkembang, ekosistemnya harus diperkuat semua. Dari sistem pendidikan, mindset anak muda, akses pasar, sistem legal (perlindungan hukum, HAKI, dll), mentoring, baru sistem permodalan. Dan masih banyak lagi aspek yang harus dibangun juga. At least akhir-akhir ini banyak pihak yang membangun pilarnya masing-masing untuk menyangga entrepreneurship Indonesia
Itu trigger utama kenapa kami bertiga (2 partners & gue) memutuskan untuk berkontribusi dengan membangun Kinara Indonesia
Selama ini pengalaman gue sebagai tukang kredit benar-benar berkutat di sisi permodalan (perbankan). Sementara seperti gue sebut di atas tadi, ekosistem yang dibutuhkan meliputi banyak sekali aspek. Permodalan hanyalah salah satu bagian kecil dari ekosistem itu. Dan jenis permodalan yang dibutuhkan juga tidak melulu pinjaman.
Saat ini mindset semua entrepreneur pemula terpaku pada pinjaman dari lembaga keuangan (bank atau non-bank). Karena memang hanya itu yang ada dan terlihat. Padahal belum tentu itu yang mereka butuhkan. Analogi yang selalu gue pake adalah, kalau omzet masih naik turun, kadang 10 juta kadang 2 juta, nggak make sense untuk ambil pinjaman dengan cicilan 1 juta sebulan. Bukannya membantu, bisa-bisa malah merusak cashflow. Dan di dunia bisnis, sebesar atau sekecil apapun skala bisnisnya, cashflow is king
Semoga Kinara bisa menjadi salah satu pilar yang memperkuat ekosistem entrepreneurship Indonesia. Kami memang masih kecil, tapi kami tentu bermimpi besar.
Untuk tau lebih banyak lagi ngapain aja gue setahun terakhir ini, klik www.kinaraindonesia.com
Post ini aslinya ditulis kemarin dalam bahasa Inggris – Singaporean Mind Meld. Mungkin karena diskusi yang terjadi dalam bahasa Inggris, gue juga lebih gampang menuliskannya dalam bahasa Inggris, jadi lebih natural dan gue nggak perlu menerjemahkannya dalam kepala gue.
Setelah link-nya di-tweet, ada beberapa request supaya post itu dibuat bahasa Indonesianya juga supaya lebih mudah dimengerti. Semoga dengan begini akan lebih berguna untuk lebih banyak orang yang bisa merasa kesentil dan bergerak.
Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu gue dapat kesempatan untuk ketemu dan ngobrol panjang dengan orang Singapur yang lagi ambil PhD di Bandung. Aneh banget, memang. Dan itu pertanyaan pertama gue waktu ketemu dia, “Ngapain loe ambil PhD nya di sini, nggak kebalik?” Tapi akhirnya bisa ngobrol seru karena kayaknya dia juga ngerasa ada kemiripan. Dia orang sana yang belajar dan tinggal di sini, sementara gue sempat belajar di sana 2 tahun untuk setingkat SMP-SMA (sebenernya ‘O’ Levels - level sekolah sana agak aneh ngikutin system Inggris, jadi susah jelasinnya)
Anyway, kebiasaan gue setiap dating ke tempat baru selalu ingin tahu jalan pikiran masyarakat setempat, apa concern mereka, pendapat mereka tentang dunia luar selain daerah mereka, dll. Sumber termudah untuk ini adalah dari berita lokal di TV atau koran lokal. Apakah itu daerah di dalam atau luar negeri, gue selalu melakukan hal yang sama. Apalagi kalau ada kesempatan ngobrol dengan orang lokal. Jadi lebih seru lagi.
Untuk Singapur, tinggal dan sekolah di sana 2 tahun membuat gue ngerasa seperti orang lokal. Apalagi gue sekolah di sekolah ‘normal’ dan bukan sekolah internasional yang isinya anak-anak ekspat bule. Jadi gue -ngerasa- ngerti banget cara berpikir mereka.
Terkadang gue kesel sama beberapa ekspat yang gue temui di Jakarta. Banyak – gak semua tentu – yang kesannya mengisolasi diri dari budaya lokal. Terlalu sibuk bergaul sesame ekspat dan nggak peduli sama apa yang terjadi ti sekitarnya. Kerasa banget kemarin waktu gue nonton bareng rugby di Murphy’s Bar Kemang. Obrolan yang terjadi di antara gue dan mereka adalah tentang negara asalnya, bukan tentang Jakarta atau Indonesia. Kerasa banget banyak dari mereka yang nggak updated apa yang terjadi. Yang mereka tahu cuma terbatas apa yang ada di Jakarta Post. Itupun kalau baca. Yes kesannya gue generalisasi banget, tapi memang sering ketemu orang kayak gini dan bikin gue kesel.
Karena itu setiap ketemu orang asing yang tahu banyak tentang Indonesia, gue selalu impressed. To be fair, banyak juga kok yang gue ketemu yang kayak gini. Tapi masih kurang rasanya.
Nah, bayangkan serunya obrolan gue waktu ketemu sama si orang Singapur yang belajar di Bandung ini. Sebutlah namanya Charlie (bukan ST12). Gue cukup kaget bahwa dia tau banyak banget tentang Indonesia dari setahun pertamanya tinggal di Bandung. Dan karena dia tahu gue pernah di negaranya, dia juga lebih open ngobrolnya. Gue juga jadi bisa lebih mengerti kenapa dia berpendapat seperti itu, karena tahu backgroundnya. Dan walaupun cukup silet, nggak tersinggung, toh kerasa juga bahwa dia bener-bener care dan bersemangat dengan apa yang dia bilang.
Dan memang lucu ngelihat keadaan dan ‘hype’ tentang entrepreneurship & startup di sini dari sudut pandang orang Singapur.. Beberapa hal yang kita bahas:
Yang seangkatan gue mungkin inget banget waktu pembangunan jalan tol dalam kota Jakarta tahun 80an, betapa metoda ‘Arjuna Sosrobahu’ didengung-dengungkan sebagai penemuan hebat oleh teknokrat Indonesia dipakai untuk membangun tiang jalan tol? Kenyataannya gue inget banget hanya beberapa tiang yang benar-benar dibangun pakai metoda Arjuna, dan akhirnya sisa tiang yang lain tetap dibangun seperti biasa. Wonder why?
Partner gue beberapa waktu lalu datang ke Puspitek Serpong untuk sebuah acara. Dan di situ semakin terlihat betapa banyaknya penemuan baru hasil riset. Tetapi pertanyaan gue tetap sama, berapa banyak yang akhirnya benar-benar diproduksi dan dipakai secara komersil? Kita nggak perlu sesuatu yang spektakular seperti Google (yang belum tahu, Google awalnya adalah proyek riset PhD Larry Page & Sergei Brin). Betapa sayangnya kalau ada mesin pencabut duri ikan bandeng, tetapi belum dipakai masal? Padahal harga ikan setelah dicabut duri bisa 2 kali lipat harga ikan mentah? Beberapa dari penemuan yang pernah dikurasi Puspitek ada di link ini
Kesimpulan gue, penemuan yang ada akhirnya berhenti sebatas penemuan dan ada ‘missing link’ bahwa hanya sedikit dari mereka yang benar-benar bisa dipakai. Memang nggak cuma di Indonesia ada problem seperti ini. Komersialisasi hasil riset memang nggak gampang. Tapi at least persentase hasil riset yang benar-benar dipakai harus bisa diangkat..
Seperti yang pernah dikatakan Jean-Baptiste Say: “entrepreneur mampu memindahkan sumber daya ekonomi untuk meningkatkan produktivitas dan hasil”. Well, we gotta believe this guy! Say adalah ekonom Perancis yang pertama kali mendefinisikan dan memakai kata ‘entrepreneurship’. Sejarah lebih banyak lagi bisa dibaca di entry Wikipedia ini
Kembali ke pendapat Charlie tadi, benar bahwa kebanyakan mahasiswa hanya mengejar gelar sarjana supaya dapat pekerjaan yang ‘lumayan’. Gue nggak akan sok tahu, 15 tahun lalu waktu kuliah, gue juga berpikiran persis sama. Tujuan utama waktu itu adalah dapat gelar sarjana, kerja di perusahaan yang bagus – kalau bisa multinasional supaya ada kesempatan perjalanan ke luar negeri – dan, target gaji 4 kali UMR waktu itu. Simple dan meaningless kan?
Gue bilang ke Charlie kalau sekarang ini keadaannya udah jauh berbeda dengan generasi kita 15-20 tahun lalu. Entah berapa sering sekarang gue ketemu orang-orang gila dengan spirit entrepreneurship luar biasa, walaupun status mereka masih mahasiswa! Beberapa dari mereka bahkan sudah punya bisnis yang berjalan dan menghasilkan keuntungan sebelum mereka lulus kuliah. Impressive!
Tetapi gue juga setuju bahwa pendapat dia masih valid. Kita butuh lebih banyak lagi orang berpendidikan (formal atau non-formal) yang benar-benar berusaha mencari solusi untuk masalah social kita. Dan bekerja super keras supaya solusi itu benar-benar terjadi
Bagian dari memiliki mindset entrepreneurial adalah tetap punya pikiran terbuka dan nggak berhenti belajar. Nggak pernah ada batas. Gue juga ngerasa kadang-kadang terlalu malas untuk tahu tentang sesuatu kalau ada orang lain yang sudah bisa mengurus hal itu. Sering banget gue ketemu orang (yang mengaku) pengusaha, tetapi nggak tahu keadaan keuangan bisnisnya sendiri. Kalau ditanya, mereka akan jawab, “Wah saya kurang tahu, kita Tanya ke orang keuangan saya ya.” Kalau ada yang ngomong kayak gini, biasanya gue langsung hilang interest, loe ngaku pengusaha tetapi nggak tahu berapa keuntungan bisnisnya? Kalau usaha itu mau bangkrut, nggak akan tahu sampai tiba-tiba beneran bangkrut? Mengerikan
Kata-kata Charlie yang bikin gue ngakak waktu itu, “I don’t understand why Matahari employs so many SPG when they do nothing. They don’t sell… All they do is sit and admire themselves in the mirror, and only move when a customer asks their help to look for their clothing size.” Hahahaha….
Dan ini terjadi di banyak bisnis. Banyak sekali pekerja/karyawan yang sangat underutilized, padahal seharusnya skill mereka bisa diupgrade sehingga bisa menghandle lebih banyak lagi pekerjaan. Dan sebenarnya nggak menutup kemungkinan bahwa gaji mereka bisa dinaikkan bahkan sampai dua kali lipat kalau memang mengerjakan dua pekerjaan! Tetapi tentu karena begitu banyak tenaga kerja yang masih menganggur, bisa mempekerjakan lebih banyak orang kesannya lebih baik. Gue sebenarnya punya ppendapat yang sangat berlawanan dengan itu. Tapi ya nanti jadi blogpost lain aja ya…
Setelah diskusi panjang, gue dan Charlie setuju untuk kerjasama untuk membantu entrepreneur Indonesia. Dengan segala kritiknya, dia tulus ingin ikut memperbaiki problem di sini. Tentunya juga karena secara bisnis, Indonesia tetap menjadi negara yang potensial dari sisi bisnis.
Kata-kata terakhirnya teringat banget di gue, “You’ve got a lot of problems here, and where there’s a problem, there’s a solution somewhere. And remember every solution is an opportunity”. Kalau orang luar aja berpikiran seperti ini, masak kita masih pesimis dengan masa depan negeri ini?
Sampai sesi ngobrol berikut dengan Charlie…

You Trekkies should be familiar with the Vulcan mind meld. If you are not, shame on you! Disclaimer: I am not a Trekkie and I still know what it is, driven by the secret desire to perform this on some people sometimes, namely SBY, most DPR members, Jero Wacik, Habib Rizieq, etc.
The funniest remark from Charlie was, "I don't understand why Matahari employs so many SPG when they do nothing. They don't sell.. What they do is sit and admire themselves in the mirror, and only move when a customer asks their help to look for their clothing size." LOL
And that is so true for a lot of businesses. A lot of workers are so underutilised, where we can actually upgrade their skills and maybe pay them twice their current salary. But of course with the abundance of people, hiring more seems to be the best option. I can assure you this is a superficial thought and is totally against this. But that's another blogpost..Move over Mario Teguh! Go away Tony Robbins!
Here comes one of the best motivational poetry by one of the gratest motivational speakers of all time, my personal favourite, Marshall Mathers.
Yes he's the real Slim Shady and unlike you two, he lets his experience do the talking.
Although he ain't that bad at speaking, at least better than your flowery crap..
His crap actually stinks like real crap and the effect is a real kick in the nut, waking me up from my dream...
Taken from Airplanes (Part II) of B.O.B featuring some chick called Hayley and the honourable Mr. Mathers:
Alright lets pretend Marshall Mathers never picked up a pen
Lets pretend things would have been no different
Pretend, he procrastinated had no motivation
Pretend, he just made excuses that were so paper thin
They could blow away with the wind
Marshall, you’re never gonna make it, makes no sense to play the game
There ain’t no way that you’ll win
Pretend, he just stayed outside all day and played with his friends
Pretend, he even had a friend to say was his friend
And it wasn’t time to move and schools were changing again
He wasn’t socially awkward and just strange as a kid
He had a father and his mother wasn’t crazy as shit
And he never dreamed he could rip stadiums and just lazy as shit
Fuck a talent show in a gymnasium bitch
You won’t amount to shit
Quit daydreaming, kid
You need to get your cranium checked
You thinking like an alien it just ain’t realistic
Now pretend, they ain’t just make him angry with this shit
And there was no one he could even aim when he’s pissed it
And his alarm went off to wake him off but he didn’t make it to the rap Olympics
Slept through his plane and he missed it
He’s gon’ have a hard time explaining to Hailey and Laney these food stamps and this WIC shit
Cuz he never risked shit
He hopes and he wished it
But it didn’t fall in his lap
So he ain’t even here
He pretends that…
I trust my readers are adult enough to read thru the profanities and digest the message
If not, well, google him and read thru his short biography
As for me, it's time to pick up my pen...
Where Venture Angels Ignite™
Nice article from venturehype.com on Angel Investors